Nestapa Kursi Bisu
Kursi sepi kini sedang termangu
menyisakan bekas debu
yang terang oleh sunup sang pemberi susu
tertinggal bayang rindu
dalam angan matanya yang sendu
Itu adalah betapa merdunya hari
hingga kini menghilang menjelma abu
sedangkan hangat raganya
masih menyentuh kursi yang kini tanpa kasih
bersemayam sebagai butiran kenangan asih
yang bergegas mengantar surat kabar
berhenti di pemakaman
untuk menyampaikan rasa sabar
Lantas,
kursi itu raib bersama amal
menyusul sayangnya yang usai
menyisakan
hening sela-sela lantai
sebagai saksi suci
yang bisu di antara kebersamaan sang fajar
elegi pun enggan sirna
atau hanya sebatas menahan runtuh mendung tangis
untuk bendungan nestapa yang juga ragu
terhadap perpisahan dalam teduhnya kicauan yang dulu ia segani
lalu harapan mengalir di perantara jejak kursi
terkesan bisu,
mengisyaratkan adanya klise rindu
yang tak pantas untuk dikubur
namun,
layak disimpan pada jejak air mata
oleh lembut usapan yang kabur
Jember, 20 Juni 2025
Penulis: Rhamdan Adi Putra
Editor: Dewi Ningrum
Ilustrasi: Dewi Ningrum
