Rumah
Rumah… Rumah… Rumah…
“Dahlia kita tanam rumah ini berdua saat kami hijau. Ketika belum lengkap bunga dan buah. Rumah yang penuh cinta, namun seluruh bagiannya tak butuh sekedar cinta. Bangunan ini memaksa kami yang masih kuncup untuk segera dewasa. Bagaimana nasib kami yang terpaksa? Aku mencintaimu, tapi tidak dengan rumah ini.”
/Rumah/
Kalian yang memaksa atau terpaksa
Tak lepas dari buah dan bunga kalian untuk menopangku lebih jauh
Lebih tinggi dari megah susunan batu bata
Lebih berharga dari kilau cincin lamaran
Aku tak bisa meneduhkan kalian dengan rasa
Hanya saja atapku yang bocor haus tenaga
Dan cat dindingku yang terkelupas merintihkan dana
Perabotan di rongga ini membutuhkan harta
Sedangkan kalian hanya melihatku dengan cinta?
Aku bukan sekedar rumah
Rumah… Rumah…
“Ya, kau bukan rumah. Dahlia menyebutmu bagian dari dirinya. Sebelum ia lelap bersama kata-kata. Puisi-puisi merayu di balkon dan lampu rumah ini kadang mati. Begitupun dengan air matanya, ikut mati. Karena kami tak sanggup untuk menyalakan pangkalan diri”
/Rumah/
Aku tak bisa memaksa karena aku tak bisa pergi
Aku hanya bisa tenggelam dalam runtuh jauh dalam rindu
Hanyut bersama arus penyesalan
Yang bahkan tak sanggup mendatangkan sebuah kata yang belum siap
‘keluarga’
“Rumah, tolong hidupkan lampu itu”
/Rumah/
Kau tidak punya
Token jiwamu sedang runtuh
Bersama tumbang pepohonan rusuk ragamu
Terbengkalai dalam denyut rahim
“Rumah, biarkan laron laron itu berterbangan di dadanya”
/Rumah/
Kau bahkan belum rampung
Cahayamu hilang dilahap ego tuan
Ia akan rusak bila paksaan langitmu terlalu kencang
“Rumah, bawa aku keluar darimu”
/Rumah/
Dahlia tidak ingin
Raganya masih menyentuh tempurung dan menyangkut di sela-sela lantai hidupmu
“Rumah, bunuh dia bersamamu.”
/Rumah/
Siapa?
“Dahlia yang menunggu”
Rumah…
Penulis: Rhamdan Adi Putra
Editor: Dewi Ningrum
Ilustrasi: Pinterest
