Organisasi internal maupun eksternal kampus menjadi ruang belajar bersama yang melatih cara berpikir kritis, kepemimpinan, dan kepekaan mahasiswa terhadap persoalan sekitar. Kenyataan di lapangan menunjukkan minat mahasiswa di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Jember untuk bergabung dengan organisasi mahasiswa semakin anjlok. Banyak mahasiswa memandang organisasi sebagai aktivitas tambahan yang tidak terlalu penting bagi kehidupan akademik mereka.
Kondisi tersebut juga dirasakan oleh Rayon Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia FIB UNEJ dalam proses kaderisasi. Proses penjaringan mahasiswa baru pada tahun 2025 menunjukkan bahwa sebagian mahasiswa enggan bergabung dengan organisasi karena menganggap organisasi sebagai beban yang menyita waktu dan tenaga. Pandangan negatif terhadap organisasi mahasiswa terus berkembang seiring munculnya narasi tidak mengenakkan yang beredar di lingkungan kampus. Imbas dari persaingan antar organisasi internal maupun eksternal kampus juga turut membangun rasa enggan mahasiswa untuk terlibat dalam aktivitas organisasi.
Sahabati Revy Hilda selaku demisioner kepala bidang (Kabid) kaderisasi Rayon FIB pada periode 2024 pernah memberikan sebuah wejangan di suatu rapat pada saat penulis belum menjadi staf pengurus rayon, ia berkata kaderisasi adalah jantung bagi keberlangsungan organisasi mahasiswa. Kaderisasi bukan hanya sebagai proses perekrutan anggota, tetapi juga sebagai ruang belajar bersama yang menumbuhkan kesadaran intelektual dan kepekaan sosial mahasiswa. Tantangan muncul ketika kaderisasi PMII FIB UNEJ berhadapan dengan kecenderungan mahasiswa yang semakin pragmatis sehingga memilih untuk tidak berkecimpung di organisasi. Kondisi tersebut menuntut kaderisasi yang lebih terbuka dan relevan dengan kebutuhan mahasiswa.
Berdasarkan dari pengamatan penulis, banyak temannya yang menjadi mahasiswa di FIB memandang organisasi sebagai aktivitas tambahan yang tidak memberikan manfaat langsung bagi akademik mereka. Mahasiswa lebih memprioritaskan nilai akademik, kelulusan tepat waktu, dan persiapan kerja dibandingkan keterlibatan dengan PMII FIB UNEJ. Pandangan tersebut muncul karena mahasiswa melihat organisasi dapat menyita waktu dan energi di tengah tuntutan akademik yang padat. Sebagian mahasiswa juga memiliki persepsi negatif terhadap organisasi mahasiswa akibat cerita tidak berdasar tentang konflik internal, senioritas berlebihan, dan perebutan kepentingan organisasi eksternal di ruang kolektif internal kampus. Informasi tersebut membangun citra yang buruk antara mahasiswa dengan PMII FIB UNEJ sebelum mereka benar-benar mengenalnya.
Sentimen negatif terhadap organisasi mahasiswa di lingkungan FIB UNEJ tidak muncul secara tiba-tiba. Persaingan antarorganisasi eksternal (ormek) dan internal kampus menjadi salah satu faktor yang membentuk citra negatif organisasi di mata mahasiswa. Persaingan tersebut terwujud dalam adu gagasan dan nilai yang berkembang di ruang-ruang kampus. Pada masa penjaringan mahasiswa baru, PMII FIB UNEJ sering kali menerima narasi yang tidak mengenakkan dari berbagai pihak. PMII FIB UNEJ pada saat ini berkomitmen untuk tidak menyebarkan narasi negatif terhadap pada masa penjaringan mahasiswa baru. PMII FIB UNEJ meyakini bahwa organisasi yang baik adalah organisasi yang tidak menaruh prasangka buruk terhadap organisasi lainnya.
Keberadaan mahasiswa yang memiliki sikap anti organisasi eksternal (anti-ormek) turut memperkuat sentimen negatif tersebut. Kelompok ini memandang organisasi eksternal sebagai ruang yang tidak relevan dengan kebutuhan akademik dan perkembangan diri. Narasi yang disebarkan kelompok anti-ormek sering kali menekankan sisi negatif organisasi tanpa memberikan gambaran yang lengkap dan valid. Pandangan tersebut memengaruhi mahasiswa lain, terutama mahasiswa baru, sebelum mereka memiliki pengalaman langsung dengan organisasi. Sentimen negatif yang terus berkembang akhirnya membentuk sikap apatis dan penolakan terhadap organisasi mahasiswa, termasuk PMII FIB UNEJ.
Rayon PMII FIB UNEJ merespons sentimen negatif dan rendahnya minat mahasiswa berorganisasi melalui pola kaderisasi yang lebih terbuka dan menyenangkan. Penulis terlibat langsung dalam proses tersebut sebagai Koordinator Acara MAPABA tahun 2025. Penulis dan sahabat/i lainnya menyusun rangkaian penjaringan kader yang dimulai dari kegiatan pra-pengenalan organisasi. Proses awal dimulai melalui webinar daring bertajuk “Langkah Pertama: Siap Kuliah, Siap Jadi Versi Terbaik” yang bertujuan menumbuhkan minat mahasiswa baru terhadap PMII FIB UNEJ dengan memberikan pemahaman awal tentang dunia kampus. Penjaringan selanjutnya yakni dengan kegiatan Layar Bersama berupa menonton film Lyora di Bioskop KCM Jember yang dihadiri mahasiswa baru FIB dan mahasiswa baru se-UNEJ yang tergabung dalam pengkaderan Komisariat UNEJ Future Leadership Fellowship (FLF). Penulis juga menyelenggarakan lapak buku dan kegiatan meronce di ruang terbuka Fakultas Ilmu Budaya sebagai media interaksi santai yang terbukti efektif membangun kedekatan emosional dengan mahasiswa baru. Seluruh rangkaian kegiatan tersebut menghasilkan data latar belakang dan minat mahasiswa baru yang menjadi bahan dalam proses kaderisasi lanjutan. Penulis kemudian melanjutkan proses tersebut melalui kegiatan pra-MAPABA dengan topik “Apakah Mengikuti PMII Masih Relevan?” yang dipresentasikan oleh alumni Rayon PMII FIB UNEJ sehingga dapat menambah kepercayaan calon anggota sebelum mengikuti rangkaian MAPABA. Pendekatan kaderisasi tersebut menunjukkan bahwa Rayon PMII FIB UNEJ berupaya membangun citra organisasi melalui pola kaderisasi yang mengedepankan suasana menyenangkan namun tetap bermutu agar nilai-nilai PMII dapat diterima secara mudah oleh mahasiswa baru.
Kaderisasi organisasi mahasiswa menghadapi tantangan besar di tengah menurunnya minat mahasiswa, berkembangnya sentimen negatif, dan persaingan antar organisasi eksternal. Kondisi tersebut menuntut organisasi untuk tidak bertahan pada pola lama yang kaku dan tertutup. Pengalaman kaderisasi Rayon PMII FIB UNEJ menunjukkan bahwa pendekatan yang terbuka dan menyenangkan mampu membangun bonding yang baik dengan mahasiswa baru. Pendekatan kaderisasi yang tidak tepat berpotensi berdampak buruk terhadap proses regenerasi pada periode selanjutnya. Mangkanah, PMII FIB UNEJ diharapkan mampu terus menghadirkan kaderisasi yang relevan dengan realitas dan kebutuhan kader sehingga tidak hanya terpaku pada nilai organisasi.
#Izin #Prinsip
Penulis : Mario
Editor : Dewi Ningrum
Ilustrasi : Redaksi
