Nikah Muda Itu Pilihan, Bukan Pencapaian
Media sosial kembali ramai oleh unggahan seorang perempuan berusia 19 tahun yang memutuskan menikah muda. Sebenarnya ini bukan fenomena baru. Setiap tahun selalu ada cerita serupa, hanya wajah dan platformnya yang berbeda. Namun, yang membuat perbincangan ini kembali memantik diskusi bukan semata keputusan menikah mudanya, melainkan narasi yang menyertai pilihan tersebut.
Dalam unggahan perempuan tersebut, menikah muda diletakkan berhadap-hadapan dengan pilihan hidup lain seperti fokus pendidikan atau sekadar “nongkrong sana-sini”. Di titik ini, pernikahan tidak lagi sekadar keputusan personal, melainkan diposisikan sebagai langkah hidup yang dianggap lebih tinggi nilainya. Seolah-olah menikah muda adalah tanda kesiapan dan kedewasaan, sementara kuliah atau mengejar pendidikan hanyalah aktivitas sambil menunggu hidup benar-benar dimulai.
Nikah Muda Bukan Pencapaian, Tapi Keputusan
Tidak semua orang menjadikan pernikahan sebagai tujuan akhir hidupnya. Ada yang masih harus membereskan persoalan keluarga, ada yang sedang berjuang memperbaiki kondisi ekonomi, ada pula yang memilih membangun masa depan lewat pendidikan. Setiap orang berangkat dari latar belakang, beban, dan urgensi yang berbeda.
Karena itu, menikah muda tidak tepat jika diposisikan sebagai pencapaian. Pernikahan adalah keputusan besar, bukan medali kehidupan. Ia sah, boleh, dan tidak perlu dihakimi. Namun, keputusan tersebut juga tidak otomatis lebih bernilai dibandingkan pilihan hidup orang lain.
Sering kali, pendidikan direduksi hanya sebagai aktivitas “sekadar”. Padahal, orang yang memilih fokus kuliah juga berangkat dari ambisi, visi, dan misi yang tidak main-main. Kuliah bukan fase menunda kehidupan. Kuliah adalah bagian dari proses membangun kehidupan itu sendiri.
Menyamakan pendidikan dengan aktivitas santai tanpa arah, jelas merupakan penyederhanaan yang keliru. Tidak semua yang belum menikah sedang main-main dengan hidupnya. Sama seperti tidak semua yang menikah muda sudah sepenuhnya siap menghadapi segala risiko yang menyertainya.
Di titik ini, yang perlu disadari adalah bahwa kesiapan hidup tidak bisa diukur hanya dari status pernikahan.
Masalahnya Bukan Nikah Muda, Tapi Cara Membenarkannya
Pilihan menikah muda mulai menjadi bermasalah ketika dibenarkan dengan cara membandingkannya secara tidak setara dengan jalur hidup orang lain. Ketika menikah muda diposisikan sebagai simbol kesiapan hidup, secara tidak langsung pilihan hidup orang lain ditempatkan sebagai sesuatu yang kurang bernilai. Di sinilah persoalan muncul.
“Ternyata mental berani mengambil keputusan yang anti mainstream (menikah muda), juga terbawa sampai aku membangun bisnis.”
Narasi di atas mencoba mengaitkan menikah muda dengan keberhasilan membangun bisnis. Narasi ini problematik. Membangun bisnis tidak menunggu status pernikahan. Bisnis bisa dimulai kapan saja, oleh siapa saja, baik sebelum menikah, sambil kuliah, sambil kerja, maupun tanpa rencana menikah di usia muda.
Branding semacam ini keliru dan menyederhanakan hidup secara berlebihan. Pernikahan seolah dijadikan penjelas atas keberhasilan, sementara proses panjang di luar itu hampir tidak diperhitungkan. Akhirnya, menikah muda tampak sebagai bukti kesiapan hidup, padahal kesiapan tidak lahir dari status pernikahan saja, melainkan dari banyak pengalaman yang dijalani seseorang.
Di media sosial, satu narasi bisa dengan mudah membentuk banyak cara pandang. Ketika narasi tersebut terus diulang, ia perlahan berubah menjadi standar sosial baru. Seolah-olah ada urutan hidup yang harus diikuti, dan siapa pun yang berada di luar urutan itu dianggap belum “jadi”. Padahal, hidup bukan tentang lomba siapa yang paling cepat sampai. Tidak ada garis finis tunggal yang harus dicapai semua orang.
Nikah muda adalah pilihan. Fokus pendidikan juga pilihan. Bekerja, membangun bisnis, atau menunda pernikahan pun sama-sama pilihan. Tidak ada yang lebih tinggi, tidak ada yang lebih rendah. Yang ada hanyalah jalur hidup yang berbeda, dengan risiko dan tanggung jawabnya masing-masing. Dan selama pilihan itu tidak merugikan orang lain, semuanya layak dihormati.
Penulis : Desti Sagita
Editor : Dewi Ningrum
Ilustrasi : Redaksi
