Puisi-puisi Widyah

Daun Kering
Mungkin dedaunan kering
Jatuh berguling lalu beterbangan terbawa angin
Menyangkut di sela-sela semak belukar
Menjauh dari Sang Pohon
Berawal dari biji kemudian tumbuh tunas lalu berdahan kokoh setelah melewati waktu yang panjang
Tapi, tetap menjadi daun kering yang lambat laun akan melebur bersama tanah kembali pada asal mulanya
Sudahlah tak perlu dipikirkan
Apapun itu akan termakan oleh waktu
Berjarak dan kembali pada kata “asing”
Daun tak mengenal biji, begitupun sebaliknya
Semesta sudah mengingatkan
Tetapi apa?
Melangkah terlalu jauh melampaui batas yang sudah ditetapkan
Tidurlah, jangan sampai ketiduran
Nikmati segala yang akan hambar pada waktunya walau mungkin menciptakan bekas tiada habisnya
Aku tak mengerti
Entah berapa goresan
Tinta ini meninggalkan jejak di kertas putih
Mengombang-ambing pemilik jemari
Bergelut dengan halusinasi
Tak kunjung mendapat inspirasi
Padahal rasa berkecamuk dalam hati
Ini bukan soal materi, atau perbandingan diri
Jika tak mampu menciptakan tirai lagi
Jangan coba menyakiti, dengan bualan seolah peduli
Sudah berusaha menyelimuti
Berganti pun sepanjang hari
Mencoba bertahan, tak mengisahkan busuk-membusuk
Semua baik-baik saja
Bu…
tanganku lelah,
namun aku tak mengerti
Penulis: Widyah
Ilustrasi: Murni