
Judul film : Darah dan Doa
Sutradara : Usmar Ismail
Penulis : Usmar Ismail dan Sitor Situmorang
Produksi : Perfini (perusahaan film nasional Indonesia)
Durasi : 128 menit
Tahun rilis : 1 September 1950
Hari film nasional diperingati setiap tanggal 30 Maret bertepatan dengan dimulainya produksi film Darah dan Doa (1950) yang disutradarai oleh Usmar Ismail. terlintas dalam pikiran saya, kenapa bukan film Loetoeng Kasaroeng (1926) yang menjadi penanda peringatan Hari Film Nasional yang pada dasarnya lebih dulu ada. Setelah menyelisik dan mencari tahu, saya menemukan jawaban yang sangat sederhana untuk alasan mengenai hal tersebut, yakni bahwa film Darah dan Doa benar-benar film yang murni buatan Indonesia tanpa campur tangan orang asing, seperti Loetoeng Kasaroeng yang disutradarai oleh orang Belanda dan masih berkonteks kolonial.
Film Darah dan Doa merupakan film bertemakan perang Indonesia pertama yang diproduksi bangsa Indonesia sendiri dan diproduksi oleh perusahaan produksi lokal. Bertepatan dengan peringatan hari film nasional, menarik bagi saya untuk menonton dan mengulas kembali film Darah dan Doa yang merupakan karya dari bapak perfilman nasional kita.
Fokus utama film ini adalah Kapten Sudarto yang diperankan oleh Del Juzar. Menyusul Perjanjian Renville, Khodam Siliwangi berpindah ke Yogyakarta namun ketika Yogyakarta diserang dan jatuh ke tangan Belanda, Kapten Sudarto mengemban misi untuk memimpin prajurit Divisi Siliwangi untuk kembali ke markasnya di Jawa Barat. Perjalanan ini dikenal dengan sebutan Long March Siliwangi yang menempuh jarak sekitar 600 kilometer jauhnya. Perjalanan itu tidak mudah bagi mereka, terutama bagi Kapten Sudarto yang selalu dihadapkan dengan pilihan antara tugas sebagai prajurit atau perasaan pribadi. Kapten Sudarto selalu ditekan keadaan untuk mengambil keputusan-keputusan yang berat dan juga mengancam nyawa orang-orang di sekitarnya.
Kapten Sudarto dan prajurit Divisi Siliwangi tidak hanya dihadapkan dengan musuh dan para pemberontak, tetapi juga dihadapkan pada situasi kelaparan tanpa persediaan makanan dan masalah pribadi lainya. Ada satu scene yang menarasikan mereka makan rumput dan daun berhari-hari. Perjalanan mereka selalu diwarnai dengan adegan baku tembak dan pertumpahan darah yang tiada henti. Mereka tidak hanya melawan Belanda tetapi juga melawan para pemberontak yang mereka temui, termasuk penduduk desa yang berkaitan dengan kelompok militan Darul Islam dan pemberontakan PKI di Madiun.
Setelah mereka berhadapan dengan pemberontak bangsa, kini mereka kembali diserang oleh pasukan Belanda yang menewaskan Widya, perawat yang disukai oleh Kapten Sudarto. Akibatnya para prajurit Divisi Siliwangi berpencar, termasuk Kapten Sudarto yang memutuskan untuk pergi ke Bandung sendirian. Karena hal ini, dia terjebak dan ditahan oleh pasukan Belanda. setelah disiksa Kapten Sudarto mulai merenungi dan menyesali perbuatannya, khususnya kegemarannya memainkan wanita.
Film ini berakhir tragis bagi Sang Kapten, dimana setelah Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia dan para prajurit Divisi Siliwangi dengan aman sampai ke Jawa Barat. Ajal menjemput Kapten Sudarto pada malam yang pil. Dia mati oleh peluru yang ditembakkan pria yang berkaitan dengan PKI Madiun, usai mereka beradu mulut.
Setiap film pasti memiliki penyeimbang dan bumbu-bumbu cerita sampingan yang menarik, termasuk dalam film ini yang tema besarnya adalah peperangan dan perjuangan, tetapi tetap terselip kisah romantis antara Kapten Sudarto dengan perawat bernama Widya dan juga Noni Jerman, ya walaupun Sudarto Sang Kapten sudah memiliki keluarga. Tapi terlepas dari itu, hal ini menjadi salah satu penyeimbang cerita agar tidak terlalu kaku, karena film ini berdurasi dua jam, hampir separuh isinya hanya adegan kekerasan dan perang, tentu akan membosankan juga bagi kita yang menonton. Untungnya, itu semua terselamatkan berkat selingan-selingan yang ada dalam film ini, seperti humor dan juga musikal pada beberapa scene, seperti pada adegan yang menampilkan para prajurit menyanyikan lagu “Rasa Sayange” contohnya.
Pesan utama dalam film ini tentu saja adalah nilai patriotis dan nasionalis para pejuang bangsa demi kemerdekaan negara. Namun disisi lain pesan moral yang dapat saya tangkap setelah menonton film ini, terdapat refleksi terhadap sejarah bangsa kita yang menunjukkan bahwa perjuangan kemerdekaan melibatkan pengorbanan besar termasuk darah, air mata, dan doa yang selalu beriringan. Sehingga menuntut kita untuk memahami isu sejarah dan kemanusiaan di dalamnya, apalagi pada tragedi di Madiun pada film ini. Film ini juga lebih menceritakan sisi negatif Sang Kapten ketimbang menceritakan sisi positifnya, seperti Kapten Sudarto yang digambarkan plin-plan, ragu-ragu, dan suka bermain perempuan.
Darah dan Doa adalah film pertama yang diproduksi oleh Perfini (perusahaan film nasional Indonesia) Sebagai film pertama yang murni dibuat oleh orang Indonesia, film ini menurut saya sudah memiliki alur cerita yang bagus serta sinematografi yang sudah bisa dinikmati kala itu dengan visual hitam putih khas film zaman penjajahan. Walaupun cerita yang diangkat tidak terlepas dari peperangan dan perjuangan bangsa Indonesia, serta akting para pemainnya masih terkesan agak kaku dan terkadang latar musiknya juga tidak sesuai keadaan, bahkan lokasi geografis pada beberapa scene masih ambigu, sehingga menyebabkan buyarnya fokus cerita.
Mungkin agak membosankan ketika orang awam menonton film ini karena masih bervisual hitam putih dan hampir selama dua jam isinya adalah peperangan. Hingga pada separuh babak film ini baru disuguhkan hal yang menarik bagi saya termasuk ending cerita yang plotwise tidak saya duga. Tapi terlepas dari beberapa kekurangan yang ada, kita patut bangga dan mengapresiasi film ini, apalagi bagi kalian pecinta film kurang afdol kalau belum nonton film bersejarah ini yang menjadi menjadi cikal bakal berkembangnya industri film di Indonesia.